Yuk! Sambil kuliah, Berwirausaha

Sudah menjadi pemahaman umum bahwa setiap mahasiswa yang ada diperguruan tinggi dipersiapkan dan mempersiapkan diri untuk kelak bekerja di sektor formal, seperti menjadi pegawai negeri, pegawai perusahaan swasta, dosen di perguruan tinggi negeri atau swasta, dan lain-lain. Intinya lebih kepada menjadi pekerja bawahan, atau orang gajian, bukan sebagai pekerja mandiri atau bahkan pemilik dari suatu perusahaan.


Sudah menjadi kenyataan sekarang ini peluang bekerja di sektor formal semakin menyempit, bahkan struktur perusahaan swasta sudah mulai mengarah pada bentuk yang lebih ramping dengan sedikit pekerja, sementara itu tidak sedikit pekerja yang harus kehilangan pekerjaannya karena PHK. Setiap ada penerimaan pegawai negeri, kita bisa melihat betapa tidak seimbangnya antara jumlah pendaftar dengan jumlah yang akan diterima negara. Sebagian besar dari mereka adalah para sarjana-sarjana baik yang baru lulus maupun yang telah lama. Sebagian kecil dipastikan akan lolos dalam penyaringan dan sebagian besar akan gagal dan kembali menambah jumlah angka pengangguran. Kondisi sebagai ini mungkin bukanlah keinginan mereka, karena belum adanya alternatif lain yang lebih menjanjikan, dan masih terbatasnya bekal untuk membuka lapangan kerja mandiri, terutama kesiapan dan jiwa wirausaha.

Jika sektor formal menyempit, tidak demikian dengan sektor informal yang justru semakin melebar, membuka berbagai kesempatan untuk dimasuki oleh para pekerja-pekerja mandiri. Masalahnya adalah kesiapan dari pekerja-pekerja mandiri tersebut dalam hal keterampilan, pengalaman, dan yang terpenting adalah pasar dari produk yang dihasilkan.

Jika kita berbicara tentang kesiapan, keterampilan, dan pengalaman, maka kita akan melihat bahwa ketiga hal tersebut jarang ditemukan pada pendatang-pendatang baru di dunia wirausaha. Kenapa demikian? Karena mereka umumnya hanya mempersiapkan diri untuk bekerja disektor formal. Mereka mau masuk kesektor informal karena terpaksa setelah tidak mempunyai peluang lagi di sektor formal. Apa yang akan terjadi? Yang kemudian terjadi adalah kurangnya keterampilan dan pengalaman serta sulitnya pemasaran menjadi penghalang utama. Jika mereka mampu beradaptasi secara baik dan cepat, tidak tertutup kemungkinan mereka akan berhasil dan sukses nantinya.

Belakangan ini telah mulai disadari bahwa lulusan perguruan tinggi seharusnya juga dibekali dengan kemampuan untuk membuka lapangan kerja mandiri, terutama untuk dirinya sendiri dan orang lain. Karena itu saat ini telah banyak perguruan tinggi yang memasukkan mata kuliah kewirausahaan dalam kurikulumnya.

Tapi, teori saja tidaklah cukup. Teori tidak menghasilkan pengalaman ataupun pembentukan kebiasaan-kebiasaan efektif yang diperlukan oleh seorang wirausaha. Mereka haruslah berlatih dengan usaha nyata/ bisnis ril selama menempuh masa pendidikan. Upaya ini sekaligus menepis anggapan lama bahwa selama masa pendidikan formal tidak boleh dicampuri dengan hal-hal lain yang dapat mengganggu studi mereka. Bukankah sudah banyak bukti bahwa mereka yang berhasil disektor informal adalah mereka yang telah menekuni bisnisnya sekian lama, jiwa wirausaha telah tumbuh dalam diri mereka.

Tujuan berlatih dengan bisnis nyata selama masa studi adalah untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan secara permanen. Bidang studi yang dijalani dapat menjadi bidang usaha untuk berlatih. Misalnya seorang Mahasiswa Fakultas Pertanian, dapat berlatih membangun bisnis dibidang pertanian, misalnya usaha pembibitan tanaman, usaha pupuk anorganik, kebun sayuran, dll. Efek yang didapat adalah ia akan menjadi terbiasa dengan pola fikir di bisni pertanian, dengan demikian jiwa wirausahanya akan tumbuh dan menetap karena pembiasaan tadi. Selain itu ia punya banyak waktu untuk menjajaki pasar sebelum benar-benar terjun ke pasar sesungguhnya. Dan dengan status sarjananya ia akan lebih Profesional dalam menata bisnisnya. Pola ini dapat diberlakukan untuk Fakultas apapun dengan bidang usaha seputar ilmu formalnya.

Namun bisa saja bidang studinya berbeda dengan bidang usaha yang digeluti, misalnya berdasarkan Hobby, berdasarkan pengamatan pasar, keterampilan yang sudah dimiliki, atau berdasarkan jumlah modal yang ada, dll. Tujuan akhir yang diharapkan adalah, setelah menjadi sarjana ia punya alternatif yang setara antara bekerja secara formal atau memilih bekerja secara mandiri, baik dalam bidang studinya atau sebaliknya. Jika ini terjadi maka setiap lulusan tidak lagi berbondong-bondong mendaftar pekerjaan, atau apabila gagal pada kesempatan tersebut ia tidak akan kembali menganggur.

Pembentukan jiwa kewirausahaan selama masa studi tidak dapat hanya dengan magang beberapa saat di perusahaan, atau sekedar Kuliah Kerja Usaha dalam waktu terbatas, namun mereka benar-benar perlu menangani sebuah usaha nyata, tentunya dibawah bimbingan Inkubator bisnis yang dapat dibangun di tiap perguruan tinggi, jika belum ada, dapat bekerjasama dengan lembaga-lembaga pelatihan wirausaha atau inkubator bisnis dari luar. Skala usahanya dapat disesuaikan dengan tingkat studinya agar tidak mengganggu pelajaran utamanya.

Konsep ini sederhana dan memungkinkan untuk diterapkan, malah sebenarnya di bebera daerah konsep ini sudah berjalan dengan sendirinya atas inisiatif para mahasiswa itu sendiri. Dengan adanya mata kuliah kewirausahaan sebagai pendamping mata kuliah formal yang ada. Dengan kemampuan intelektualitas yang lebih tinggi, maka peluang akan lebih besar. Mari kita galakkan berwirausaha bagi semua warga kampus.

Poskan Komentar